Life as a couple

Silahkan Oversharing

“Ga semua pencapaian harus diposting.”
“Ga semua kesedihan harus disharing.”

Itu salah satu pesan istriku ketika aku berniat menshare pencapaian kecil di youtube kami melalui stories di instagram.

Alasan istriku melarang karena ga semua orang harus tau keberhasilan kita karena bakalan ada yang ga suka dengan keberhasilan orang kita.

Selain menimbulkan iri di hati ternyata aura negatif mereka terhadap keberhasilan kecil kita bisa merusak proses dan pencapaian yang sedang kita usahakan.

Tapi, toh aku tetap memposting dan menshare itu, dasar bandel!

Alasanku tetap share itu sebenarnya sederhana: pengen merayakan pencapaian-pencapaian kecil, siapa tau bisa menjadi inspirasi buat orang lain.

Tapi yang aku ga sadar adalah ada bahaya nyata yang tidak terlihat ketika aku share hal itu di sosial media!!


Sampai kepada hari ini:

Baru aja kejadian di youtube kami ini. Baru seminggu lalu kami bisa tersenyum dengan gaji bulanan youtube yang cenderung stabil, eh tau-tau akun kami kena dismonet, ga lagi bisa gajian dan terancam ditutup!

Waduh!
Kok bisa?
Kenapa bisa begini Tuhan?

Nasi sudah menjadi bubur,
klo kata istri: jangan takabur!

Sedih yah, nyesel yah,
tapi yah udah terlanjur gimana.

Dari hal ini aku sadar akan banyak hal:

Aku sadar bahwa sebenarnya aku ga butuh validasi untuk menyadari potensi diri.

Aku sadar bahwa haus akan interaksi dan affirmasi itu menjadi celah untuk aku menshare semua hal, termasuk yang bersifat privasi.

Aku sadar, bahwa begitu mudahnya aku memberikan akses masuk ke semua orang untuk melihat kehidupan pribadi kami: kami lagi apa, lagi jalan kemana, lagi gimana, tinggal dimana, bahkan lagi susah apa!

Yah, lagi-lagi atas nama mimpi dan visi hidup, sampai lupa bahwa ga semua orang harus tau dan harus mau.

Ga semua orang harus aku “paksa” untuk melihat karya-karyaku, pencapaianku, storytellingku, dan kesedihanku hanya untuk mendapatkan konfirmasi dan affirmasi untuk pilihan hidup yang aku jalani ini.

Eh tapi
Tau ga yang paling ngeri dari oversharing itu apa?

Jejak digital?
data pribadi?
kehidupan pribadi?

Bukan!
tapi kebutuhan pribadi!!

Rasa haus akan konfirmasi dan affirmasi dari orang lain atas apa yang kita lakukan, kita rasakan dan kita capai dalam hidup ini.

Yes, kebergantungan itu yang akan membawa adiksi yang pada akhirnya akan menjerat kita dengan yang namanya insecure!

Tuh kan, lagi-lagi bener perkataan istri:
Ga semua pencapaian harus diposting,
Ga semua kesedihan harus disharing!

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started