Benyak orang memulai tahun dengan sebuah PERNYATAAN. Tapi ada juga yang memulainya dengan PERTANYAAN, salah satunya adalah kami.
Tahun 2023 memang sudah berlalu, tapi ingatan dan kenangannya tak mudah untuk dilupakan. Perjalanan kami menuju mimpi untuk keliling Indonesia harus berakhir dengan berbagai macam kehilangan.
Ingatan itulah yang pada akhirnya menjelma menjadi sebuah kekhawatiran. Khawatir untuk mengharapkan sesuatu dan khawatir untuk menjalani sesuatu.
“Coba deh ceritakan kekhawatiran kamu kepada Tuhan, siapa tau ada jawaban.” Kata beberapa teman mencoba menghibur kami
Kami percaya Tuhan, tapi sepertinya kami butuh sosok yang berkulit untuk bisa berbagi cerita sekaligus mendapat pendapat.
Pilihan kami adalah meminta petuah dari simbah. Dalam adat istiadat jawa, simbah bukan hanya dituakan karena umurnya saja, tapi kebijaksanaan yang muncul sebagai akibat dari pengalaman hidup yang telah dilaluinya berpuluh tahun lampau.
Sayangnya, kami berdua sudah tidak memiliki simbah. Untungnya, teman kami berbaik hati mengajak kami ke tempatnya untuk bertemu simbah, seorang yang dituakan.
“Mbah… gimana caranya menghilangkan ketakutan dan kekhawatiran hidup yah?” tanyaku.
Bukannya segera menjawab, simbah yang belakangan baru kutau namanya adalah mbah topah malah mengajak kami untuk pergi menanak nasi.
“Mbah, ngapunten… kok kulo malah dikon masak toh mba??” tanyaku heran.
Simbah tak menjawab, tapi hanya tersenyum kecut sembari meneruskan kegiatan yang sedang dilakukannya yaitu memasak nasi.
Di desa, ternyata memasak nasi tidak semudah menekan tombol cook di magic jar. Ada beragam proses yang lumayan lama dan membosankan. Uniknya, proses memasak nasinya menggunakan kukusan dan api hasil dari bakaran kayu.
Tau kukusan? Perabot dapur yang terbuat dari bambu yang dibelah tipis-tipis lalu dianyam sedemikian rupa hingga berbentuk seperti piramida bulat terbalik.
Pada masa lalu, kukusan memiliki peran penting bagi masyarakat pedesaan dalam pengolahan nasi. Untuk mengukus, kukusan harus berpasangan dengan dandang yang berfungsi sebagai wadah air yang akan dipanaskan. Dandang di bawah, kukusan di atasnya.
Sekadar informasi, mengukus atau menanak makanan dengan kukusan tak mudah, dan perlu kerja beberapa kali.
Kesulitan dimulai dengan ‘cethik geni’ yang adalah proses menyalakan api si tungku, yang tak selalu jadi sekali sulut. Beras juga mesti ‘diliwet’ dulu setengah matang dengan ‘ketel’ sebelum akhirnya ditumpangkan ke kukusan.
Api yang terlalu besar atau pengukusan yang terlalu lama berisiko membuat nasi atau makanan lain ‘mblodot’ sehingga kurang enak dimakan. Belum lagi kalau air di dandang sampai ‘asat’ maka akan sangitlah makanan itu.
“Duhh… ribet banget sih mbah, kenapa ga pake magic jar ajah tinggal pencet trus jadi.” Tanyaku yang mulai tidak sabar.
Lagi-lagi simbah tidak menjawab, hanya tersenyum kecil lalu melanjutkan memasaknya.
Yah mau gimana lagi, akhirnya kamipun dengan berat hati harus menunggu sampai nasi matang untuk sekedar mendapatkan jawaban dari simbah. Daripada kami berdiam diri menunggu sembari menggerutu, akhirnya kami memilih untuk membantu simbah menggoreng tempe dan kawan-kawannya.
“Ndok… kene..” sayup sayup kudengar suara simbah.
Dengan bergegas kami segera menuju ke dapur utama untuk bisa segera mendapatkan petuah simbah.
(((perkataaan simbah dalam bahasa jawa)))
“Harus jujur? jujur sama siapa mbah maksudnya.?” tanyaku kembali
Simbah hanya tersenyum, rasanya aku tau jawaban yang dimaksud. Jujur sama diri sendiri: apa yang membuatku takut dan kuatir.
Sejujurnya, ketakutan terbesarku adalah ketika kita meminta sesuatu kepada Tuhan, justru masalah yang akan dihadirkan. Seakan-akan Tuhan tak dengar doa kita, malah kita dikasih bertubi-tubi masalah.
“Gimana sih Tuhan !!” kataku tanpa sabar.
Padahal kalau kita mau sabar dan mengerti, sesungguhnya melalui masalah itulah kita bisa mendapatkan jawaban atas semua doa-doa kita.
“emang ga bisa yah Tuhan klo jawab doa tanpa masalah?” tanyaku dalam hati
“Bisa.. tapi tanpa masalah, sikap hatimu ga akan berubah.” Tiba-tiba saja jawaban itu melintas begitu saja di hati kecilku.
Belum selesai aku merenung dengan jawaban itu, tiba-tiba simbah berkata lagi kepada kami:
(((Wong nyambut gawe kuwi yoo enek kalane sepi yoo eneng kalane rame. Ojo susah-susah nek sepi, ojo bungah-bungah nek wayahe rame.)))
Ahhh… sikap hati yah mbah maksudnya? Tapi tentang sikap hati, siapa yang bisa mengajari mbah? ” kataku kepada simbah.
Tanpa berkata apa-apa, simbah hanya melirik ke arahku, lalu gantian melirik ke arah sosok yang sedang mengambil nasi di ujung sana.
Hah? istriku? emang dia bisa mbah?
…
Leave a comment