Perjalanan kami di 2023 hampir usai. Pada akhirnya, waktulah yang akan menyudahi segala sesuatunya. Bukan, bukan untuk mengakhiri mimpi, tapi waktulah yang akan pergi.
Lucu memang, ketika berdiri di garis tepi, seringkali kita merasa waktu cepat berlalu sekali, tanpa permisi, tanpa basa-basi. Padahal, kalau kita mau menengok jauh ke belakang, banyak sekali kejadian yang membuat kita nyaris jatuh terjengkang. Tapi nyatanya, kita masih bisa terus bangkit dan berjalan kembali kan?
Seperti biasa, cara terbaik kami menikmati hari adalah dengan mencari tempat yang sepi. Menepi dan menyepi adalah cara terbaik untuk refleksi, menenangkan hati, rekoleksi.
Sepertinya bukan kami yang menemukan tempat ini, tapi tempt inilah yang menemukan kami. Namanya Asap Isep, terletak di sukabumi. Tadinya kami nyaris tersasar karena hampir tidak ada papan penunjuk jalan di sini. Bahkan, di tempatnyapun tak ada plang nama atau hingar bingar resto yg biasanya terpampang nyata. Ingatkanku untuk bertanya nanti tentang hal ini ya.
Kenalkan, ini brisket, daging asap hasil olahan abah isep. Lucu yah, ada daging asap, ada abah isep. Pantas saja namanya Asap Isep.
“Abah hobi masak yah?” tanyaku ketika melihat banyak literasi buku mengenai makanan di pojokan sudut.
Nampaknya suaraku terlampau kecil, atau bisa jadi si abah yang terlampau serius menikmati karyanya. Yah, bagi abah, makanan adalah seni yang melahirkan karya untuk bisa dinikmati rasa.
“krucukkk…krucukkk..” upss, maafkan ketidaksopanan perutku yang bergejolak menahan lapar. Aroma yang tercipta mampu menggugah selera dan rasa. Hanya saja, di sini kamu harus bersabar, karena karya terbaik membutuhkan waktu. Jadi buat yang terburu-buru, saranku jangan ke sini!
Akhirnya yang ditunggu tiba, daging asap lengkap dengan kentang dan kawan-kawannya. Oh iyah, jangan lupa pesan pumpkin soup dan saladnya.
Berpadu dengan suara jangkrik dan heningnya malam, kami menikmati karya terbaik abah. Keheningan seketika terjadi ketika kami melabuhkan suapan pertama kami ke lidah kami.
Layaknya orang kesurupan, kami memasukan suapan kedua, ketiga bahkan keseratus ke dalam raga kami. Maaf, saya bukan tipikal foodies yang bisa mendeskripsikan rasa dengan beragam kata dan frasa andalan mereka. Bahkan sesungguhnya, saya tidak bisa berkata apa-apa menikmati karya rasa yang luar biasa sempurna.
“Ap yang dari hati, selalu menyentuh hati.” Kataku ke istri sembari tersenyum usai menikmati seluruh jamuan rasa. Sempurna!
Kusenderkan tubuh ini ke sofa lembut yang ada di sana. Mulutku sudah selesai orgasme, kini saatnya perutku ikut mencicipinya. Tenang, hening, suara alam, aroma dedaunan, aroma daging bakar, perut kenyang, ini surgaaaaa!!
Tadinya, malam tak ingin segera kusudahi, tapi apa daya kantuk melanda. Kenyang dan kantuk adalah proses yang tidak bisa dipisahkan, bak orgasme dan terlelap. Setelah menikmati kenikmatan tertinggi, tubuh kita akan menjadi rileks.
“aarrrggghhhhh siaaaaal… aku lupa…” jeritku dalam hati yang tanpa sengaja melupakan bahwa semalam adalah malam pergantian tahun. Mungkin karena terlalu sepi, atau terlalu menikmati sehingga hingar bingar tahun baru menjadi terlewat.
“Sudahlah.. yang berlalu biarlah berlalu..” kataku dalam hati.
Tahun baru? bulan baru? atau hanya sekedar berganti hari? sebut aku skeptis, tapi bagiku malam dan pagi bukanlah penanda resolusi, tapi sebuah inspirasi. Tanpa ada penanda tahun barupun, kami selalu bersyukur untuk setiap harinya.
Hanya saja kami bersyukur bahwa semalam kami mengakhiri tahun 2023 dengan benar: rasa, karsa dan karya. Lidah ini dimanjakan, hati ditenangkan, jiwa dipulihkan.
Apakah ini akhir perjalanan kami? atau ini adalah sesuatu yang baru? tiada yang tau! hanya saja panggilan itu semakin kuat, tanda itu semakin nyata, bisikan itu semakin sering adanya.
Akankan kami berpetualang lagi? akankah kami harus bercerita lagi? akankah kami bisa terinspirasi dan menginspirasi lagi?
Semoga saja semesta berkehendak.
Tahun ini selesai, tapi kisah ini baru dimulai.. Selamat datang di terasa serasa !!!
Leave a comment