Life as a couple

Derana

Sebagai pasangan petualang, mendengar kata pantai gatra membuat kami bersuka. Pantai yang dinobatkan sebagai pantai terbersih dan terindah di Malang Selatan ini membuat kami ingin bersantai di sana, tapi……

Untuk bisa sampai ke pantai ini butuh perjuangan dan komitmen. Perjuangan untuk menapaki setiap langkah demi langkah untuk sampai ke bibir pantainya, dan komitmen untuk tidak membuang sampah sembarangan.

“ahhh gampang, yang penting jalanin dulu ajah yang!” Kata pak suami bersemangat.

Ngeliat semangat pak suami yang membara, aku juga jadi ikutan semangat. Langkah demi langkah kami jalani walau keringat membasahi baju kami.

“Nanti kalau udah sampai pantainya, kita bisa hammockan sama main Kano tau yang, seruuu…” kata suami yang makin bersemangat.

Pantai Gatra sendiri adalah kawasan konservasi alam, dimana para pengunjung yang ke sini harus bertanggung jawab terhadap sampahnya sendiri. Kalau sampai meninggalkan sampah, kalian bisa kena denda yang lumayan mahal. Semua itu dilakukan demi menjaga pantai dan kawasan hutan manggrovenya supaya tetap bersih dan alami.

Bahkan sebelum masuk saja barang bawaan kami diperiksa dan dicatat, dengan tujuan supaya nanti pas kembali, sisa sampahnya dipastikan dibawa kembali dan dibuang pada tempatnya. Keren yah!

Andai saja semua pantai diberlakukan seperti ini, sudah pasti Indonesia akan memiliki pantai terbersih di dunia, walau untuk bisa bersih harus dikenain denda dulu sih.

“aduuuuhh… yang bentar yang..” teriak pak suami.

Belum berapa jauh melangkah, kami sudah harus berhenti, bukan karena cape tapi karena kaki pk suami keseleo karena ga liat jalan.

“Makanya, jalan pake mata!!” kataku dengan sedikit marah.

Gimana ga marah coba, ada aja tingkahnya ketika jalan-jalan. Kalau keseleo begini kan jdi susah sendiri, bisa-bisa ga jadi mantai ini mah 😦

“aduh… duh.. duh.. jangan dipegang yang, sakit…” rengek suamiku

“udah pulang ajah deh, ga usah lanjut… bengkak begini juga..” kataku sembari marah.

Pak suami menggeleng kecil, niat hatinya yang ingin tetap mantai, hammockan dan main kano membuat seakan bengkaknya itu ga dirasa, pdahal aku tau itu sakitnya bukan main.

“yuk lanjut, udah ga sakit kok..” kata pak suami tertatih.

Enggan rasanya untuk melanjutkan perjalanan, antara kasihan ngeliat kaki pak suami, ditambah dengan rasa kesal karena kesemprulannya.

Tapi melihat semangatnya untuk terus berjalan, aku jadi ingat sebuah kata, DERANA yang artinya tidak lekas patah hati, putus asa, dan sebagainya, juga berarti tahan dan tabah menderita sesuatu.

Kalau udah maunya, pak suami bakalan terus berjuang, dalam kondisi apapun. Ini yang kusuka dari suamiku, pantang menyerah walau susah.

Kadang dalam hidup ada aja momen “keselo”nya ketika kita sedang berjalan menuju sebuah tujuan. Seakan-akan ada penghalang kecil yang bisa berakibat besar terhadap perjalanan hidup kita. Kalau ga kuat-kuat mental, bisa-bisa kita puter balik dan ga jadi sampai ke tujuan itu.

Ketika doa-doa kita tak terjawab, ketika mimpi kita seakan mustahil, ketika cinta kita bertepuk sebelah tangan, ketika kebutuhan akan uang menekan kita dengan keras, kita akhirnya memilih untuk berhenti, dan akhirnya putar balik dari tujuan awal kita.

“Mungkin bukan itu takdir kita”

“Mungkin Tuhan ga berkehendak.”

“Mungkin bukan dia jodohku.”

“Mungkin Tuhan sedang mempersiapkan yang terbaik buat kamu.”

“Mungkin aku harus ngubur mimpiku buat jadi content creator dan harus kerja sama orang lagi.”

Yakin mau menyerah? sudah jauh lho ini perjalanan, tinggal sedikit lagi sampai. Masa iya mau puter balik?

Tenang kalian ga sendiri, kamipun sempat mengalami momen keseleo dan mau menyerah kalah saja, mau puter balik saja. Tapi kami ingat DERANA!! tidak lekas patah hati dan putus asa!!

Masa iya sih Tuhan bawa kita sejauh ini hanya untuk putar balik? tega amat.

Belajar dari pantai Gatra, andai saja tadi kami menyerah pulang, mungkin kami tidak akan bisa menikmati momen kebersamaan ini. Mungkin kami hanya akan misuh-misuh di jalan dan berakhir di kasur saja beristirahat dan menyesali perjalanan ini.

DERANA-lah yang membuat kami tetap maju, walau langkah pak suami tidak secepat dan setegap di awal. Tapi nyatanya dengan langkah-langkah kecil dan lambatpun kami tetap sampai di tujuan kok, bahkan sepertinya keselonya sudah tidak dirasa lagi tuh sama pak suami, hahahaha, dasar!

Yuk coba buat jangan menyerah melangkah yuk, walau hidupmu lagi “keselo”, langkahmu terhenti karena bengkak, dan seakan-akan kamu ngerasa ga ditakdirkan untuk memenuhi mimpimu.

Percayalah, kamu ditakdirkan untuk sampai ke sana! Jangan ubah mimpimu, jangan ubah tujuanmu, paksakan takdirmu!

Karena Tuhan suka orang yang berjuang!

Tuh, dapet salam tuh dari Pantai Gatra!!

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started