Terbangun karena bunyi alarm, tergesa-gesa memburu waktu, siap sedia menghadapi macetnya jalan raya.
Akhirnya kami menyerah! Bukan hidup seperti ini yang kami idamkan. Bukan hanya perkara lelah tubuh, tapi waktu untuk kami bersama tak lagi ada.
Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti kerja. Dengan uang sekedarnya, kami memilih rehat sejenak dari rutinitas, berpetualang, menepi sejenak.
Kembali ke alam, inilah hidup yang kami idamkan.
Ada satu kata yang mendefinisikan apa yang sedang kami lakukan, sela. Sela artinya berhenti sejenak, sela artinya rehat, sela bisa juga diartikan memberikan jeda.
Biasanya, tubuh akan memberikan alarm tertentu ketika dia merasa lelah. Entah itu dalam bentuk pegel, kesel atau sakit. Sama dengan tubuh, mentalpun juga punya alarm tersendiri.
Jadi ingat setahun yang lalu, ketika mendadak di pagi hari pak suami hanya terpaku memandang laptop yang belum nyala 2 jam lamanya. Kukira dia tertidur, tapi ternyata hal ini lebih daripada sekedar alarm tubuh.
Segera kubawa dia ke dokter terdekat, bukan sembarang dokter, PSIKIATER, alias dokter jiwa. Ada apa dengan pak suami??
Ternyata dia terkena kecemasan yang berlebihan, bahasa medisnya adalah anxiety. Penyebabnya apa? workaholic yang berlebihan ditambah dengan partner kerja yang perfeksionis dan manipulatif yang setiap hari telponin dia minimal 2-3 jam. Kebayang sih betapa besar presure yang dia terima.
Here we are! walau terkesan sederhana, tapi kami menemukan arti hidup yang sesungguhnya: Hidup itu indah klo kita tak tergesa-gesa menjalaninya.
Sehabis menyeduh cokelat panas, kami hanya memandangi semesta yang mungkin bagi sebagian orang tidaklah menarik. Tapi justru di sini, waduk karangkates, kami bisa berkontempelasi dengan semesta, pasangan, dan jiwa kami sendiri.
Komunikasi kami yang tidak lancar menjadi selancar air yg ada di sekeliling kami. Emosi yang tadinya terbendung kini bisa terluapkan dan tersalurkan dengan benar. Tubuh kami dipulihkan, jiwa kami disegarkan, cinta kami direkatkan kembali.
Percayalah, kita semua butuh sela. Tubuh ini butuh jeda. Sekuat apapun hatimu, dia tetaplah bagian terlembut dari manusia, jangan dilatih menjadi keras.
Ketika tubuhmu memberikan sinyal bahwa dia butuh sela, segera berikan, jangan ditunda!
Apa sela terbaik? bagi kami, sela terbaik adalah back to nature n do nothing. Hanya berusaha mensinkornisasikan detak jantung dengan suara hembusan angin, harmonisasi jiwa dan raga.
Sudahkah kalian Sela??
Leave a comment