Life as a couple

Foggy day

“Yah… ada kabut..” kataku dalam hati.

Padahal niat awal kami adalah ingin menunjukan pengalaman campervan di tempat yang view 360 nya amazing banget kepada teman kami.

“Maaf yah kabut..” kataku dengan suara penuh kekecewaan kepada mereka.

Ketakutan terbesar dalam hidup adalah ketika kita tidak bisa menunjukan apa yang kita perkatakan. Takut dicap pembohong, penipu atau lebih parahnya lagi adalah lebay. Ketika cap itu sudah melekat, akan susah dilepas seumur hidup.

“Santai kak, namanya juga alam, suka ga bisa ditebak.” Kata kawan kami dengan santai

Ternyata tidak ada kekecewaan sama sekali di raut wajah kawan kami, nyatanya mereka tetap bisa menikmati semesta walau semua tertutup warna putih yang tebal. Dinginpun tak jadi soal.

Alam memang ga bisa ditebak, apalagi hidup. Paginya cerah, 10 menit aja bisa berubah. Pemandangan indah bisa seketika lenyap berganti suasana mencekam.

Jadi inget sama petuah sepuh yang bilang gini: “Klo di puncak berkabut, sudah pasti yang di bawahnya cerah. Terserah lw mau nunggu tuh kabut ilang, atau langsung turun.”

Pilihan kami jatuh kepada bersegera turun, mencari tempat yang lebih rendah sambil berharap cuaca cerah, ketemu pemandangan indah.

Perkataan sepuh ampuh! hanya turun berapa langkah saja, kabut sudah hilang dari pandangan.

Kalau direfleksikan ke kehidupan, kami seringnya lebih milih menunggu kabutnya hilang walau tak tau sampai berapa lama. Kami lupa bahwa ada pilihan kedua: langsung segera turun. Turun? maksudnya apa?

Turun berbicara mengenai kondisi hati dan ego kita. Ketika ada masalah, harusnya yang diademkan dan diturunkan dahulu adalah hati dan egonya, karena kunci dari setiap masalah adalah ketenangan.

“Jadilah tenang supaya kamu bisa berdoa.”

Langkah turun yang kedua adalah kondisi sempurna dengan menurunkan tubuh kita kedalam sikap berdoa.

Agak susah bagi yang belum terbiasa seperti kami, karena logika kami masih ingin berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan Tuhan. Merasa kuat belum tentu mampu, merasa terbiasa belum tentu bisa.

“Ini dia view kece kami maksud tadi, keren kan..” kataku dengan bangganya

“Iyah percaya, bahkan saat kabutpun kami tetap percaya kalian kok.” kata mereka sembari senyum.

Ahhhh… senang rasanya bisa dipercaya, kalau kami saja sebegitu senangnya bisa dipercaya apalagi Tuhan ya. Pasti Dia sangat senang luar biasa melihat anak-anakNya mau dan mampu mempercayai dia bahkan di dalam kabut terpekat sekalipun.

Tuh kan, kami jadi dapet pelajaran berharga lagi dari perjalanan kli ini:

“Ketika hidup berkabut, jalan tidak jelas, dan pikiran tumpul, ingatlah Tuhanmu. Ia memiliki kekuatan untuk memberimu kedamaian. Ia memiliki kekuatan untuk menyelesaikan persamaan kehidupan yang belum terpecahkan.”

Semangat menginspirasi dan terinspirasi, yuhuuuuuuuuuu…

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started