Life as a couple

Leadership

リーダーシップ
(Ridashippu)

Alkisah ada seorang mahasiswa yang ingin masuk ke klub pencinta alam di kampusnya karena diajak temannya. Walaupun temannya bukan aktivis di club itu, tpi dia giat mempromosikan sekaligus juga ngajakin orang untuk sekedar main ke sekre atau ikut kegiatan naik gunungnya.

Karena ajakan teman itulah akhirnya si mahasiswa tertarik bergabung, ikutan nanjak bareng bahkan sampai ditawari untuk menjadi simpatisan aktif untuk bantu pengurus di sana.

Awalnya si mahasiswa merasa nikmat berada di klub ini karena bener-bener seperti disambut, disupport bahkan diundang masuk ke wag pengurus klub tersebut.

Apa yg terlihat dari luar kadang berbeda dengan yg sebenarnya. Makin masuk ke dalam, si mahasiswa melihat makin banyak konflik dan drama di dalam klub tersebut, mulai dari drama admin socmed sampai kepada drama koordinasi dengan klub lain dan dengan senat kampus. Kegiatanpun sudah semakin jarang, klopun ada yah lebih kepada kegiatan santunan dan publikasi media saja, sedangkan untuk sesi sharing internal jarang bahkan tidak ada.

“Akhirnya, ada nanjak bareng lagi..” pikir si mahasiswa. Iyah, nanjaknya bareng sih, tapi pas istirahat atau ngecamp, yang ada asyik dengan kelompoknya masing-masing, semacam ada klub di dalam club. Dan yang lebih parahnya lagi, ketua klub tidak nampak batang hidungnya.

Kebingungan mau ngumpul dan ngobrol sama siapa, akhirnya si mahasiswa cuma nempel dan ngobrol terus sama temen yg ajak dia di awal.

Keluhan si mahasiswa semakin menjadi, ketika perlahan tapi pasti temannya memilih undur dari klub tersebut. “Lho kenapa? bukannya dia yg paling semangat ajak orang untuk ikutan?” pikir si mahasiswa.

Ternyata usut punya usut, loyalitas temannya kpd klub itu dianggap menyalahi prosedur dan melangkahi kepemimpinan yg ada, padahal maksudnya baik.

Akhirnya, si mahasiswa memutuskan untuk undur jadi simpatisan, dan memilih untuk jadi member pasif biasa saja, yang ptg bisa berkawan tanpa perlu tau drama kepemimpinan yg ada di klub tersebut.

Pesan moral???
Jadi pemimpin itu gampang, punya jiwa kepemimpinan itu yang susah. Selain butuh kehadiran, butuh kebijaksanaan dan keteladanan. Sanggup?


Salam yuhuuu darir kami!!

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started